December 2011
54 posts
1 tag
Jangan Melucu, Semesta
sebulan sudah lewat, saat aku terakhir kali melihat matanya seminggu sudah lewat, saat aku terakhir kali mendengar suaranya ada banyak yang berubah, namun bukan hatiku, sama sekali bukan itu  kumohon, jangan melucu, Semesta jangan biarkan aku masih sama seperti dulu, saat hadirnya mampu kuatkanku kumohon, jangan terus menerus melucu, Semesta  karena jika ia sudah melaju dayungnya, mengapa aku...
Dec 26th
24 notes
1 tag
Surgaku adalah kau, Ibu
Surgalah itu, Ibu tempat pertama kali aku hidup, dari rahim seorang wanita sepertimu Surgalah itu, Ibu barisan kata-kata yang tak pernah lelah kau ucapkan, berikut air mata sebagai lekatnya permintaan,  aku tahu kau mendoakan anak-anakmu pada Tuhan Surgalah itu, Ibu semua pengorbananmu atas masa kecilku, atas waktu-waktu bermain yang mungkin jarang kau berikan, atas materi kehidupan yang selalu...
Dec 21st
26 notes
“rangkaian suaraku memanggil namamu. entah untuk membangun masa depan, atau...”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 21st
2 notes
“aku ingin menghargai hidup, dengan mensyukuri setiap cinta yang Tuhan berikan...”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 21st
19 notes
“jangan pernah menyalahkan cinta, atas egomu yang mungkin keliru...”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 19th
2 notes
“detik-detik yang kulalui tanpa puisi, adalah waktu-waktu dimana kita mampu...”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 19th
2 notes
“kita pernah sedekat jarak yang tak mampu memisahkan, lalu sekarang, kurasa kau...”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 19th
15 notes
“cinta adalah kesabaranmu, yang membiarkanku terus belajar walau ada banyak jalan...”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 19th
5 notes
1 tag
Mereka Bernama 'Tegar'
airmata ini bernama Tegar, ia menerima kekalahan, atas ego dan kesalahan perasaan langkah kaki ini bernama Tegar, ia berjalan jauh untuk sebuah ketiadaan, untuk sakit menuju pengakhiran degup jantung ini juga bernama Tegar, ia tetap hidup, walau sebagian jiwanya merasa mati sebagian karena pada akhirnya, aku sungguh hanya ingin tegar, atas selamat tinggal yang sudah kita ikrarkan. Tangerang,...
Dec 19th
16 notes
1 tag
Dari Tempatku Menulis Puisi
dari tempatku menulis puisi, ada kenangan yang masih melintas sekelebat bayang, seperti dekat namun ingin pergi  dari tempatku menulis puisi, ada jarum jam yang seolah menertawakan lalu menegurku sambil menanyakan, ‘dimana ‘cinta selamanya’ yang dia janjikan?’  dari tempatku menulis puisi, fotomu di dinding kamarku masih menghiasi, kau merangkul pundakku penuh arti  ...
Dec 19th
11 notes
1 tag
'Menangislah sekarang'
atas kesedihan yang terlampau dalam, atas air mata yang keluar berlebihan, atas luka yang kau kira tak akan hilang, akan duka yang tak mau kau lepaskan, menangislah sekarang karena aku tahu kau kuat, tak akan ada alasan kau harus menangis sendirian  kudengar ia berusaha menenangkan kepanikan, kudengar ia berusaha mendamaikan kekesalan, kudengar ia berusaha menentramkan kegelisahan,...
Dec 19th
11 notes
“jangan terlalu jauh dariku. aku khawatir cinta cemburu pada rindu.”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 16th
8 notes
“jangan mencoba menakar rinduku, karena kau sungguh tak akan pernah mampu.”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 16th
4 notes
“setiap esok adalah hari ini yang tertunda. maka, jangan menyerah. karena esok...”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 16th
4 notes
“tak akan kutinggalkan apa-apa yang kupercaya. dan cintaku padamu adalah asal...”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 16th
2 notes
“kamu membuatku menghening dalam doa, pada malam-malam ketika rindu membabi buta.”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 16th
2 notes
“cerita indah patut diceritakan (pula) dengan cara indah. kurasa seperti itulah...”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 16th
1 note
“ini bukan rindu, hanya kenangan masa lalu yang terus berputar di kepalaku. kau,...”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 15th
9 notes
“Kamu menghilang; seiring dengan rinduku yang diam-diam meradang.”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 15th
6 notes
“aku mengirimkan doa. lalu kamu ada.”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 14th
7 notes
“aku ingin memuisikan cinta, meminang rindumu dalam balutan kata-kata.”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 14th
4 notes
“Karena detak jantungku tak akan pernah menang melawan waktu. Aku ingin...”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 14th
2 notes
Caraku Mencintamu
saling mencintai dengan cara sederhana, adalah cara yang terindah bagi cinta kita, dan mencintaimu walau pernah terluka,  adalah cara yang tetap kupilih untuk bahagia, atau, memilih untuk bertahan atas tebing cinta,  adalah jalan berat yang membuatku tetap terikat,  pada ikatan hatimu : karena itu memang mauku  - Tia Setiawati Priatna Bandung, 15 Juli 2011 
Dec 13th
4 notes
Dec 7th
19,588 notes
Dec 7th
2 notes
Dec 7th
Dec 7th
1 note
Dec 7th
1 note
Dec 7th
7 notes
“pertemuan denganmu adalah perayaan awal akan masa depan. katamu, ia belum...”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 7th
8 notes
1 tag
Tiba-tiba Aku Teringat Bandung
hari ini, kotaku mendung, musim hujan, kata mereka lalu tiba-tiba,  aku mengingatmu, Bandung jalanan lengang, orang-orang saling sapa menyenangkan, cuaca ramah syahdu, nada suara melagu merdu, dan kenangan tentang merindu, : kurasa semuanya sedang bertamu di ingatanku entah akan kuganti dengan apa, merindumu tidak akan sama dengan merindu kota lainnya, karena aku pernah jatuh cinta,...
Dec 7th
3 notes
Dec 5th
796 notes
Dec 5th
601 notes
Dec 5th
1,599 notes
“mungkin tidak cukup bagi hidupku, untuk hanya melihatmu tersenyum bukan...”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 5th
1 note
“jika kau mau, aku mampu membuatkan sebuah puisi untukmu. bukan tentang cinta...”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 5th
6 notes
1 tag
Kita (sungguh) Tak Perlu Menyesal
kita mengenal kenangan, karena kita memiliki masa lalu, karena kita memiliki hidup, sebelum kita mampu menjadi ‘kita’ kau bilang : ‘jangan sampai kita menjadi sebuah kenangan’, lalu kujawab dengan : ‘kenangan adalah apa yang mampu kau ingat dengan senyuman, lalu mengapa menyesal?’ aku ingat sebuah kata-kata dari seseorang : ‘jangan...
Dec 4th
15 notes
“di hatiku; berjuta rindu, di kepalamu; bertubi logika sedang beradu. lalu, di...”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 3rd
3 notes
“mungkin rindu akan lebih bahaya dari sekedar candu, dan aku mampu meminum racun...”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 3rd
“tentang hujan dan kerinduan, kurasa penantian akan lebih paham.”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 3rd
4 notes
“semenjak tak ada lagi kamu, cinta sepertinya enggan bertamu.”
– Tia Setiawati Priatna
Dec 1st
3 notes
Aku ingin memaafkan
Tuhan menganugerahiku hati untuk merasa, telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, dan berbagai indera sebagai pelengkap maka, untuk setiap sakit yang kurasakan, untuk setiap kekecewaan, untuk setiap ketidakpuasan, untuk setiap kebohongan, untuk setiap pengingkaran, untuk setiap ketidaksetiaan, : aku ingin memaafkan sebesar karunia yang Tuhan berikan, aku ingin memiliki hati lapang untuk...
Dec 1st
14 notes
Dec 1st
1,993 notes
Dec 1st
431 notes
Dec 1st
920 notes
Dec 1st
904 notes
Dec 1st
2,266 notes
Dec 1st
888 notes
November 2011
61 posts
“sesekali aku ingin kau mengucap rindu; padaku, seluarbiasa aku merindumu.”
– Tia Setiawati Priatna
Nov 30th
16 notes