December 2011
54 posts
1 tag
Jangan Melucu, Semesta
sebulan sudah lewat, saat aku terakhir kali melihat matanya
seminggu sudah lewat, saat aku terakhir kali mendengar suaranya
ada banyak yang berubah, namun bukan hatiku, sama sekali bukan itu
kumohon, jangan melucu, Semesta jangan biarkan aku masih sama seperti dulu, saat hadirnya mampu kuatkanku
kumohon, jangan terus menerus melucu, Semesta karena jika ia sudah melaju dayungnya, mengapa aku...
1 tag
Surgaku adalah kau, Ibu
Surgalah itu, Ibu tempat pertama kali aku hidup, dari rahim seorang wanita sepertimu
Surgalah itu, Ibu barisan kata-kata yang tak pernah lelah kau ucapkan, berikut air mata sebagai lekatnya permintaan, aku tahu kau mendoakan anak-anakmu pada Tuhan Surgalah itu, Ibu semua pengorbananmu atas masa kecilku, atas waktu-waktu bermain yang mungkin jarang kau berikan, atas materi kehidupan yang selalu...
rangkaian suaraku memanggil namamu. entah untuk membangun masa depan, atau...
– Tia Setiawati Priatna
aku ingin menghargai hidup, dengan mensyukuri setiap cinta yang Tuhan berikan...
– Tia Setiawati Priatna
jangan pernah menyalahkan cinta, atas egomu yang mungkin keliru...
– Tia Setiawati Priatna
detik-detik yang kulalui tanpa puisi, adalah waktu-waktu dimana kita mampu...
– Tia Setiawati Priatna
kita pernah sedekat jarak yang tak mampu memisahkan, lalu sekarang, kurasa kau...
– Tia Setiawati Priatna
cinta adalah kesabaranmu, yang membiarkanku terus belajar walau ada banyak jalan...
– Tia Setiawati Priatna
1 tag
Mereka Bernama 'Tegar'
airmata ini bernama Tegar, ia menerima kekalahan, atas ego dan kesalahan perasaan
langkah kaki ini bernama Tegar, ia berjalan jauh untuk sebuah ketiadaan, untuk sakit menuju pengakhiran
degup jantung ini juga bernama Tegar, ia tetap hidup, walau sebagian jiwanya merasa mati sebagian
karena pada akhirnya, aku sungguh hanya ingin tegar, atas selamat tinggal yang sudah kita ikrarkan.
Tangerang,...
1 tag
Dari Tempatku Menulis Puisi
dari tempatku menulis puisi, ada kenangan yang masih melintas sekelebat bayang, seperti dekat namun ingin pergi
dari tempatku menulis puisi, ada jarum jam yang seolah menertawakan lalu menegurku sambil menanyakan, ‘dimana ‘cinta selamanya’ yang dia janjikan?’
dari tempatku menulis puisi, fotomu di dinding kamarku masih menghiasi, kau merangkul pundakku penuh arti
...
1 tag
'Menangislah sekarang'
atas kesedihan yang terlampau dalam, atas air mata yang keluar berlebihan, atas luka yang kau kira tak akan hilang, akan duka yang tak mau kau lepaskan, menangislah sekarang
karena aku tahu kau kuat, tak akan ada alasan kau harus menangis sendirian
kudengar ia berusaha menenangkan kepanikan, kudengar ia berusaha mendamaikan kekesalan, kudengar ia berusaha menentramkan kegelisahan,...
jangan terlalu jauh dariku. aku khawatir cinta cemburu pada rindu.
– Tia Setiawati Priatna
jangan mencoba menakar rinduku, karena kau sungguh tak akan pernah mampu.
– Tia Setiawati Priatna
setiap esok adalah hari ini yang tertunda. maka, jangan menyerah. karena esok...
– Tia Setiawati Priatna
tak akan kutinggalkan apa-apa yang kupercaya. dan cintaku padamu adalah asal...
– Tia Setiawati Priatna
kamu membuatku menghening dalam doa, pada malam-malam ketika rindu membabi buta.
– Tia Setiawati Priatna
cerita indah patut diceritakan (pula) dengan cara indah. kurasa seperti itulah...
– Tia Setiawati Priatna
ini bukan rindu, hanya kenangan masa lalu yang terus berputar di kepalaku. kau,...
– Tia Setiawati Priatna
Kamu menghilang; seiring dengan rinduku yang diam-diam meradang.
– Tia Setiawati Priatna
aku mengirimkan doa. lalu kamu ada.
– Tia Setiawati Priatna
aku ingin memuisikan cinta, meminang rindumu dalam balutan kata-kata.
– Tia Setiawati Priatna
Karena detak jantungku tak akan pernah menang melawan waktu. Aku ingin...
– Tia Setiawati Priatna
Caraku Mencintamu
saling mencintai dengan cara sederhana, adalah cara yang terindah bagi cinta kita,
dan mencintaimu walau pernah terluka, adalah cara yang tetap kupilih untuk bahagia,
atau, memilih untuk bertahan atas tebing cinta, adalah jalan berat yang membuatku tetap terikat, pada ikatan hatimu : karena itu memang mauku
- Tia Setiawati Priatna Bandung, 15 Juli 2011
pertemuan denganmu adalah perayaan awal akan masa depan. katamu, ia belum...
– Tia Setiawati Priatna
1 tag
Tiba-tiba Aku Teringat Bandung
hari ini, kotaku mendung, musim hujan, kata mereka
lalu tiba-tiba, aku mengingatmu, Bandung
jalanan lengang, orang-orang saling sapa menyenangkan, cuaca ramah syahdu, nada suara melagu merdu, dan kenangan tentang merindu, : kurasa semuanya sedang bertamu di ingatanku
entah akan kuganti dengan apa, merindumu tidak akan sama dengan merindu kota lainnya, karena aku pernah jatuh cinta,...
mungkin tidak cukup bagi hidupku, untuk hanya melihatmu tersenyum bukan...
– Tia Setiawati Priatna
jika kau mau, aku mampu membuatkan sebuah puisi untukmu. bukan tentang cinta...
– Tia Setiawati Priatna
1 tag
Kita (sungguh) Tak Perlu Menyesal
kita mengenal kenangan, karena kita memiliki masa lalu, karena kita memiliki hidup, sebelum kita mampu menjadi ‘kita’
kau bilang : ‘jangan sampai kita menjadi sebuah kenangan’, lalu kujawab dengan : ‘kenangan adalah apa yang mampu kau ingat dengan senyuman, lalu mengapa menyesal?’
aku ingat sebuah kata-kata dari seseorang : ‘jangan...
di hatiku; berjuta rindu, di kepalamu; bertubi logika sedang beradu. lalu, di...
– Tia Setiawati Priatna
mungkin rindu akan lebih bahaya dari sekedar candu, dan aku mampu meminum racun...
– Tia Setiawati Priatna
tentang hujan dan kerinduan, kurasa penantian akan lebih paham.
– Tia Setiawati Priatna
semenjak tak ada lagi kamu, cinta sepertinya enggan bertamu.
– Tia Setiawati Priatna
Aku ingin memaafkan
Tuhan menganugerahiku hati untuk merasa, telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, dan berbagai indera sebagai pelengkap
maka, untuk setiap sakit yang kurasakan, untuk setiap kekecewaan, untuk setiap ketidakpuasan, untuk setiap kebohongan, untuk setiap pengingkaran, untuk setiap ketidaksetiaan, : aku ingin memaafkan
sebesar karunia yang Tuhan berikan, aku ingin memiliki hati lapang untuk...
November 2011
61 posts
sesekali aku ingin kau mengucap rindu; padaku, seluarbiasa aku merindumu.
– Tia Setiawati Priatna