Rasa ini, entah apa namanya

kepada sebutir airmata,
aku seperti berserah pada duka,
aku bersedih mungkin aja,
atau rasa ini,
entah apa namanya
kepada sesak di dada,
aku seperti terhenyak oleh luka,
aku terluka mungkin saja,
atau rasa ini,
entah apa namanya
kepada kemelut di lubuk hati,
mungkin Tuhan melukismu dengan kelabu jemari,
aku sedang dikuatkanNya mungkin saja,
atau rasa ini,
entah apa namanya
kepada puisi-puisi,
aku seperti merindumu karena sedang bersedih,
aku ingin berbagi mungkin saja,
atau rasa ini,
entah apa namanya
lalu,
kepada kamu yang jauh dari raga ini,
aku seperti enggan dirangkul sepi,
aku ingin hadirmu pasti,
dan rasa ini,
kurasa lebih dari sekedar ingin dicintai.
Tangerang, 18 Februari 2012
- Tia Setiawati Priatna